Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Memahami Struktur Sel dan Fungsi Sel Pada Manusia

STRUKTUR DAN FUNGSI SEL


Secara struktural, sel merupakan suatu penyusun pada makhluk hidup uniseluler (bersel satu) atau makhluk hidup multiseluler (bersel banyak). Schleiden dan Schwann telah membuktikan melalui pengamatan mikroskopik bahwa makhluk hidup tersusun atas sel yang dirumuskan dalam teorinya yaitu sel merupakan satuan (unit) struktural dari makhluk hidup.

Max Schultze dan Thomas Huxley menyatakan dari teori selmerupakan satuan fungsional dari makhluk hidup, terlihat bahwaaktivitas yang berlangsung dalam tubuh makhluk hidup tercermindari aktivitas dalam sel. Contoh dalam hal itu adalah sintesis,respirasi, dan transportasi. Komponen sel yang berupa nukleus,sitoplasma, membran sel dan organel-organel lain mendukungkelangsungan proses tersebut dan mempunyai fungsi khusus sertasecara bersama-sama menyusun sistem yang kompak.

Menurut Rudolf Virchow, sel berasal dari sel (omnis cellula ecellula) yang melahirkan teori sel yang menyatakan bahwa selmerupakan satuan pertumbuhan. Lahirlah teori sel yang menyebutkan bahwa sel merupakan satuan hereditas dari makhluk hidup dengan ditemukannya gen yang terdapat dalam kromosom yang ada di dalam nukleus. Sedangkan Walther Flemming dan Eduard Strasburger memunculkan teori baru yaitu sel merupakan satuan reproduksi dari makhluk hidup dengan mengamati pembelahan-pembelahan sel sel yang sehubungan dengan proses reproduksi sel.

Sel adalah jaringan penyusun bagian dalam tubuh manusia yang terdiri atas suatu membran limitas eksternal sitoplasma dari suatu inti. Berdasarkan penelitian biokimia diketahui bahwa reaksi kompleks terjadi didalam sel, tetapi tidak diketahui dengan pasti karena mikroskop hanya memperlihatkan bahwa sitoplasma mengandung sari sel dan struktur khusus yaitu organela.


(a)



(b)
GAMBAR 1-2 (a) Sel Tumbuhan dan (b) sel hewan/manusia

Struktur Sel

Analisis kimiawi membran terdiri atas kompleks limpo protein. Mikroskop elektron resolusi memperlihatkan membran yang tersusun sebagai dua lamina padat elektron dengan suatu zona lusen elektron sentral. Perineum dan struktur tidak diketahui, tetapi dapat diperjelas dengan mikroskop elektron yang berfungsi melihat di mana membran terbentuk dari dua lapisan molekul lipid dengan ujung hidrofolikasi pada aspek luar dan rantai hidrofobik susunan pusat. 

Sel terdiri atas bagian – bagian berikut ini.
1. Sitoplasma
2. Badan golgi
3. Sentriol
4. Lisosom
5. Inti
6. Nukleous
7. Membran inti
8. Retikulum endoplasmik halus
9. Retikulum endoplasmik kasar
10.Membran sel
11.Mitokondria
12.Aparatus golgi
13.Lisosom

Membran Sel (Membran Plasma, Selaput Plasma)

Membran sel merupakan membran yang membatasi isi sel dari
sekelilingnya. Membran ini tersusun dari membran dua-lapis yang
terdiri fosfolipid dan protein (lipoprotein). Membran sel bersifat
semipermeabel, artinya permeabel secara selektif, berfungsi
mengatur pemasukan dan pengeluaran zat ke dalam dan ke luaar
sel.
Berdasarkan analisis kimiawi, membran diketahui terdiri atas
kompleks lipid-protein. Mikroskopis elektron resolusi tinggi
memperlihatkan membran yang tersusun sebagai dua lamina
padat elektron dengan suatu zona lusen elektron sentral.
Perincian dari struktur tidak diketahui, tetapi model yang dapat
menjelaskan sifat kimiawi dengan paling baik adalah gambaran
yang diperoleh dari mikroskop elektron dan fungsi, yaitu model
Singer dan Nicolson.
Membran dibentuk dua lapisan molekul lipid dengan ujung
hidrofiliknya pada aspek luar dan rantai hidrofobik ke arah pusat.
Komponen protein tersusun sebagai globulus yang dihubungkan
dengan lipid melalui ikatan hidrofobik. Sejumlah protein melintasi
seluruh lebar membran sehingga mempunyai gambaran pada
kedua sisi, sedangkan yang lain hanya terlihat pada salah satu sisi
atau sisi yang lainnya.
Fungsi
1. Transpor
Membran sel merupakan sawar antara bagian dalam dan luar
sel. Zat –zat harus melintasi membran ini untuk dapat masuk
ke atau meninggalkan sel. Beberapa cara untuk melintasi
membran ini adalah sebagai berikut.
a. Difusi
Cara ini merupakan proses pasif yang melibatkan ion-ion
kecil dan air, serta bergantung pada gradien konsentrasi.
b. Pompa natrium
Untuk mempertahankan konsentrasi kalium yang tinggi di
dalam sel dan konsentrasi natrium yang relatif rendah,
natrium secara aktif dikeluarkan untuk ditukarkan dengan
kalium melalui “pompa natrium” yang memerlukan energi.
c. Transfor aktif
Bahan baku untuk metabolisme seperti asam amino dan
glukosa diangkut ke dalam sel. Proses ini melawan gradien
konsentrasi sehingga memerlukan energi.
d. Transfer dalam jumlah besar
Sejumlah besar zat-zat dapat ditransfer ke dalam sel
melalui invaginasi dari membran yang dilepaskan ke dalam
sitoplasma untuk membentuk vakuola. Jika vakuola ini
mengandung cairan, maka prosesnya diketahui sebagai
pinositosis (sel yang minum) dan jika terdapat bahan
padat dinamakan fagositosis (sel yang makan).
Demikian pula vakuola sekretorik dna ekskretorik yang
dapat berfusi dengan membran sel dan mengeluarkan
isinya. Proses ini disebut sebagai eksositosis.
2. Reseptor permukaan
Protein membran kemungkinan bertindak sebagai reseptor
untuk zat-zat dalam transpor aktif, contohnya asam amino
atau kelompok asam amino, dan dapat bertindak sebagai
reseptor untuk hormon dan lain-lain. Selain itu, juga
mempunyai peranan sebagai antigen permukaan sel.
Sambungan
Sel – sel tidak berfungsi secara tersendiri. Untuk membentuk
organ-organ dan mempertahankan struktur diperlukan adanya
komunikasi.
1. Kompleks sambungan
a. Zoluna Okludens
Jenis sambungan ini merupakan hubungan dimana lamina
eksterna dari dua membran sel yang bertetangga tampak
berdifusi.
b. Zoluna Adherens
Pada jenis ini terdapat suatu kesenjangan lusen elektron
antara dua membran yang bertetangga. Diduga
mengandung suatu zat yang bertindak sebagai perekat sel.
c. Makula Adherens atau Desmosom
Sambungan jenis ini khususnya ditemukan antara sel-sel
yang mentransfer impuls listrik. Kedua membran dipisahkan
oleh suatu kesenjangan lusen-elektron yang mengandung
struktur-struktur yang melintasi dari sel satu ke sel yang
lain.
2. Sambungan kesenjangan
Jenis sambungan keempat terutama ditemukan antara sel-sel
yang mentransfer impuls listrik. Kedua membran dipisahkan oleh
suatu kesenjangan lusen-elektron yang mengandung strukturstruktur yang melintasi dari satu sel ke sel yang lain.
Membran inti
Terdiri atas dua membran, masing-masing memiliki struktur
ultra yang sama seperti membran sel, dipisahkan oleh suatu
ruang-sisterna-perinuklear. Dalam interval-interval terdapat pori
inti pada tepi, di mana membran eksterna dan interna bersatu.
Diduga terdapat suatu membran tunggal yang melintasi masingmasing pori. Membran eksterna penuh dengan ribosom dan
dilanjutkan dengan retikulum endoplasmik.
Kromatin
Kromatin pada manusia, terdiri dari 46 kromosom (22 pasang
autosom dan sepasang kromosom seks). Kromosom hanya terlihat
selama pembelahan sel. Pada tempat yang lain kromatin terdapat
sebagai berikut.
a. Heterokromatin
Merupakan bahan kromosomal inaktif. Pulasan padat seperti
yang ditemukan menempati sebagian besar inti limfosit.
b. Eurokromatin
Bahan kromosomal aktif, dengan pulasan lebih ringan seperti
yang dapat ditemukan dalam inti sel plasma.
c. Kromatin seks
Juga dikenal sebagai “Badan Barr”, terutama ditemukan dalam
hapusan bukal. Berdekatan dengan membran inti dalam sel yang
memiliki lebih dari satu kromosom X. Heterokromatin ini
merupakan kromosom X yang diinaktivasi. Wanita normal memiliki
satu badan barr per sel, pria normal tidak memiliki kromatin seks.
Nukleus (Inti Sel)
Nukleus berbentuk bulat panjang dan dilindungi oleh membran
nukleus (membran inti, selaput inti). Nukleus memiliki susunan
molekul yang sama dengan membran sel yaitu berupa lipoprotein.
Di dalam nukleus terdapat :
 Nukleolus (anak inti)
Nukleolus (anak inti) berfungsi mensintesis berbagai macam
molekul RNA yang digunakan dalam perakitan ribosom.
Ribosom amat penting bagi sintesis protein dalam sel.
Kemungkinan terdapat satu atau beberapa struktur per inti.
Mereka memiliki anyaman granular-nukleolonema, ruang
penutup-pars amorfa. Diduga merupakan tempat produksi RNA
dan lebih banyak di dalam sel yang secara metabolik aktif.
 Nukleoplasma (cairan inti)
Nukleoplasma (cairan inti) merupakan zat yang tersusun dari
protein. Butiran kromatin terdapat pada nukleoplasma akan
tampak jelas pada saat sel tidak membelah. Sedangkan pada
saat membelah, butiran kromatin menebal menjadi struktur
seperti benang yang disebut kromosom. Kromosom
mengandung DNA yang berfungsi menyampaikan informasi
genetik melalui sintesis protein.
Sitoplasma
Sitoplasma terdapat di dalam sel tetapi di luar nukleus dan
organel-organel sel. Sitoplasma merupakan suatu koloid yaitu
campuran heterogen yang stabil, dengan ukuran partikel terlarut
0,001-0,1 mikron. Sifat sitoplasma penyusun terbesarnya terdiri
atas air yang di dalamnya terlarut banyak molekul kecil-kecil, ion,
transparan, dan juga sejumlah besar protein. Koloid sitoplasma
dapat mengalami perubahan dari fase sol ke gel atau sebaliknya.
Jika konsentrasi air tinggi maka fase sol akan terjadi sedangkan
sebaliknya jika konsentrasi air rendah maka fase gel terjadi.
a. Sap sitoplasmik
Dengan adanya “pompa natrium”, secara relatif terdapat
konsentrasi yang tinggi dari kalium dan konsentrasi dari natrium
yang relatif rendah dalam cairan intraselular dibandingkan cairan
ekstraselular. Asam amino dan bahan kimiawi lain juga terdapat
dalam konsentrasi yang lebih tinggi karena adanya transpor aktif.
b. DNA sitoplasmik
Adanya DNA dalam sitoplasma organisme bersel tunggal telah
dikenal dengan baik, contohnya faktor transfer resistensi bakteri,
yang kemungkinan bakteriofag, mengandung DNA. DNA
sitoplasmik juga dipostulasi terdapat dalam sel-sel manusia.
Organel-Organel
1. Mitokondria
Mitokondria dinamakan “pusat tenaga” bagi sel karena
mitokondria menyaring energi, sari makanan, zat gizi, dan oksigen.
Mitokondria mempunyai dua lapisan membran (membran
rangkap), yaitu membran luar dan membran dalam. Permukaan
membran luar halus, sedangkan permukaan membran dalam
berlekuk-lekuk. Perlekukan ini disebut krista. Pada bagian krista
terdapat enzim untuk fosfoforilasi oksidatif dan sistem transpor
elektron sedangkan enzim daur Krebs dan asam lemak terdapat
dalam matriks mitokondria.
Organel ini menyediakan sebagian besar energi yang
diperlukan di semua bagian sel untuk melakukan fungsi sel. Jumlah
mitokondria dalam setiap sel berbeda-beda dari beberapa puluh
sampai beribu-ribu, tergantung pada jumlah energi yang
diperlukan oleh setiap sel. Selanjutnya, mitokondria
dikonsentrasikan pada bagian sel ini yang bertanggung jawab atas
sebagian besar metabolisme energinya.


GAMBAR 1-3 Mitokondria
a. Ruang intermembran
Ruang intermembran (antarmembran) merupakan ruangan
sempit diantara membran luar dan membran dalam. Membran
luar dapat dilalui semua molekul kecil dan tidak dapat dilalui
protein dan molekul besar.
b. Matriks mitokondria
Matriks mitokondria merupakan ruang yang diselubungi oleh
membran dalam. Beberapa langkah metabolisme terjadi dalam
matriks ini. Protein yang berperan dalam respirasi, termasuk
enzim pembuat ATP, dibuat di membran dalam. Membran
dalam juga memiliki permukaan yang luas sehingga dapat
meningkatkan produktivitas respirasi selular. Bagian dalam
matriks juga banyak mengandung protein dan DNA, ribosom,
dan beberapa jenis RNA. Karena adanya DNA, RNA, dan
ribosom, maka mitokondria dapat mensintesis protein sendiri.
DNA mitokondria berbeda dengan DNA di nukleus. DNA
mitokondria terdapat dalam jumlah banyak ( lebih dari 1000 kopi)
dalam tiap sel, sedangkan DNA nukleus hanya berjumlah dua kopi.
Tidak seperti DNA nukleus yang berbentuk linear, DNA
mitokondria berbentuk lingkaran. DNA nukleus merupakan hasil
rekomendasi DNA kedua orangtua sementara DNA mitokondria
relatif kecil jika dibandingkan dengan genom pada DNA nukleus,
dan sebagian besar DNA mitokondria membawa gen yang
berfungsi dalam proses respirasi selular.
2. Retikulum Endoplasma (RE)
Retikulum endoplasma (RE) merupakan perluasan membranmembran yang saling berhubungan yang membentuk saluran pipih
seperti tabung di dalam sitoplasma. Dalam pengamatan
mikroskop, Retikulum endoplasma tampak seperti saluran
berkelok-kelok dan jala yang berongga-rongga. Saluran-saluran
tersebut berfungsi untuk membantu gerakan substansi-substansi
dari satu bagian sel ke bagian sel lainnya. Dalam sel terdapat dua
tipe RE, yaitu retikulum endoplasma halus (REH) dan retikulum
endoplasma kasar (REK).


GAMBAR 1-4 Retikulum endoplasma (RE)
a. Retikulum endoplasmik halus (REH)
Pada sitoplasma terdapat kompleks tuba dan sisterna yang
saling berkomunikasi yang disebut retikulum endoplasmik, yang
berhubungan dengan sisterna perinuklear.
Beberapa dari saluran ini memiliki ribosom yang melekat pada
permukaan luar (retikulum endoplasmik kasar) dan beberapa
saluran tidak memiliki (retikulum endoplasmik halus). REH
merupakan tempat metabolisme steroid, sintesis glikogen dalam
hepar, dan detoksifikasi obat. Peningkatan REH dapat ditimbulkan
dalam sel-sel hepar melalui pemberian obat.
b. Retikulum endoplasmik kasar (REK)
Merupakan bentuk dari retikulum endoplasmik yang memiliki
ribosom. Tipe RE ini disebut kasar karena permukaannya
diselubungi oleh ribosom sehingga kelihatan seperti helaian
panjang kertas pasir (ampelas). Ribosom merupakan tempat
sintesis protein dan sintesis protein terjadi sepanjang ribosom
serta REK terdapat banyak dalam sel-sel yang membentuk protein
untuk “ekspor”, contohnya sel plasma. Ribosom terbentuk dari
RNA dan jika dinamakan REK, maka ribosom terdapat dalam
jumlah yang besar. RNA dapat dilihat dengan melakukan pulasan
sel dengan pironim.
Protein yang disintesis pada ribosom yang melekat pada
retikulum endoplasmik biasanya ditujukan untuk luar sel. Sebagai
contoh, sel-sel yang khusus untuk mensekresikan protein,
misalnya sel pankreas yang menghasilkan hormon insulin,
mengandung retikulum endoplasmik kasar yang besar.
Protein diangkut ke ruangan dalam RE setelah protein selesai
dibuat oleh ribosom di permukaan RE. Dalam saluran ini, protein
mungkin diubah oleh enzim-enzim yang berada di permukaan
dalam membran RE, biasanya ditambah dengan molekul
karbohidrat. Apabila protein telah mencapai ujung RE, protein
tersebut disimpan dalam membran kecil yang mengandung
kantong yang disebut vesikula. Vesikula dibentuk dari irisan RE
halus yang berhubungan dengan RE kasar. Jadi fungsi RE adalah
mendukung sintesis protein dan menyalurkan bahan genetik
antara nukleus dengan sitoplasma.
3. Aparatus golgi ( Badan golgi/Kompleks Golgi).
Aparatus golgi terdapat hampir di semua sel dan memiliki
bentuk bervariasi dari yang amorf sampai kantung-kantung pipih
yang bertumpuk. Tumbuhan memiliki beberapa ratus aparatus
golgi sedangkan setiap sel hewan/manusia memiliki 10 sampai 20
aparatus golgi. Aparatus golgi pada sel tumbuhan biasanya disebut
diktosom. Aparatus golgi atau badan golgi dibangun oleh
membran yang berbentuk tubulus dan juga vesikula. Dari tubulus
dilepaskan kantong-kantong kecil yang berisi bahan-bahan yang
diperlukan seperti enzim-enzim atau pembentuk dinding sel.
Berdekatan dengan inti, struktur ini terdiri atas tumpukan
sisterna yang melengkung dan jika terbentuk dengan baik akan
tampak sebagai zona jernih dalam sitoplasma, bila dilihat dengan
mikroskop cahaya. Pada bagian ini, protein, enzim, dan lain-lain
yang dihasilkan oleh sel dimodifikasi dan dikemas. Modifikasi
kemungkinan merupakan kombinasi dengan karbohidrat
membentuk glikoprotein, agregasi menjadi bentuk molekul
kompleks lain, atau sulfasi. Vakuola yang mengandung produk
akhir dilepaskan dari permukaan aparatus golgi. Vakuola-vakuola
ini kemungkinan sekretorik atau mengandung peroksidaseperoksisomes atau enzim litik-lisosom.
Fungsi aparatus golgi antara lain adalah :
1. Membentuk kantong (vesikula) untuk sekresi, terjadi terutama
pada sel-sel kelenjar. Vesikula tersebut berisi enzim atau
bahan-bahan lain.
2. Membentuk membran plasma. Kantong atau membran golgi
sama seperti membran plasma. Kantong yang dilepaskan dapat
menjadi bagian dari membran plasma.
3. Membentuk dinding sel tumbuhan.
4. Membentuk akrosom pada spermatozoa yang berisi enzim
untuk memecah dinding sel telur dan pembentukan liposom

GAMBAR 1-5 Aparatus golgi (Badan Golgi)
4. Ribosom
Ribosom berupa organel kecil yang tersusun oleh RNA ribosom
dan protein. Ribosom terdapat pada semua sel hidup dan
mempunyai bentuk bundar. Ribosom terdapat bebas di sitoplasma
dan melekat pada retikulum endoplasma kasar. Ribosom
mengelompok membentuk poliribosom atau polisom.
5. Lisosom
Seperti disebut di atas, lisosom dilepaskan dari aparatus golgi
sebagai vakuola yang mengandung enzim litik. Enzim-enzim ini
berfungsi pada pH rendah dan memiliki dua sifat berikut.
a. Digesti dari bahan yang difagositosis
Vakuola-vakuola fagostik yang kemungkinan mengandung
benda asing (heterofagosom) atau komponen sel effete
(autofagosom) berfusi dengan lisosom membentuk lisosom
sekunder. Dalam vakuola ini, enzim lisosom bertindak terhadap
bahan yang difagositosis dan mengubahnya menjadi zat-zat
larut, yang kemungkinan dilepaskan ke dalam cairan
sitoplasmik untuk ambil bagian dalam metabolisme sel.
Terkadang proses ini tidak lengkap dan masih tersisa bahan
yang tidak tercerna. Partikel-partikel ini dikenal sebagai “bahan
residual” dan di bawah mikroskop cahaya terlihat sebagai
pigmen “wear an tear” (lusuh dan sobek).
b. Autolisis
Setelah kerusakan sel, jumlah autofagosom meningkat, bahan
yang dirusak dicerna oleh fusi dengan lisosom. Jika terdapat
cukup banyak cedera akan menyebabkan kematian sel.
Membran lisosom mengalami ruptur dan terjadi autolisis total
dari sel. Hal ini penting pada nekrosis dan autolisis postmortem.
Pada tahun 1955, para ahli biologi menemukan partikelpartikel yang sangat halus di dalam sitoplasma dengan
menggunakan teknik ultrasentrifugasi. Oleh Christian de Duve,
partikel halus yang ternyata berbentuk kantong-kantong kecil ini
dinamakan lisosom.
Lisosom berbentuk agak bulat dan dibatasi membran
tunggal. Lisosom dihasilkan oleh aparatus golgi yang penuh
protein. Lisosom berisi enzim yang dapat memecahkan
(mencerna) polisakarida, asam nukleat, polisakarida, lipid,
fosfolipid dan protein. Karena itu, lisosom mempunyai peran
dalam pencernaan intrasel, misalnya pada protozoa atau sel darah
putih, juga dalam autofagi. Sebagai contohnya pada waktu
kecebong berubah menjadi katak, ekornya diserap secara
bertahap. Sel-sel ekor kecebong yang kaya akan lisosom akan mati
dan hasil penghancurannya digunakan dalam pertumbuhan sel-sel
baru yang berkembang. Lisosom terutama dapat ditemukan pada
sel hewan/manusia.
6. Sentriol-sentriol
Berdekatan dengan inti, sebagian dikelilingi oleh aparatus golgi
paling tidak terdapat dua sentriol. Sentriol terbentuk oleh
sembilan triplets mikrotubulus yang berjarak sama, dikelilingi oleh
dua mikrotubulus sentral. Pasangan sentriol ditempatkan tegak
lurus satu sama lain. Fase pertama pembelahan sel didahului oleh
reduplikasi dari sentriol yang kemudian bermigrasi ke kutub sel
yang berlawanan membentuk spindel.
Flagela dan silia terdiri atas susunan mikrotubulus yang sama.
Akan tetapi, pada beberapa kasus, mereka memiliki cincin
eksterna dari sembilan mikrotubulus dobel daripada triplet.
7. Badan Mikro (Peroksisom dan Glioksisom)
Ukuran peroksisom hampir sama dengan lisosom. Peroksisom
dibatasi oleh membran tunggal dan terdapat baik pada sel
tumbuhan maupun sel hewan/manusia. Pada hewan/manusia,
peroksisom banyak terdapat di sel hati dan ginjal sedangkan pada
tumbuhan terdapat dalam berbagai tipe sel.
Peroksisom berisi penuh dengan enzim dan yang paling khas
adalah katalase. Enzim ini mengkatalisis perombakan hidrogen
peroksida (H2O2), produk yang berpotensi membahayakan dari
hasil metabolisme sel. Peroksisom juga berperan dalam
perubahan lemak menjadi karbohidrat.
Glioksisom hanya terdapat pada sel tumbuhan, misalnya pada
lapisan aleuron biji padi-padian. Aleuron merupakan bentuk dari
protein atau kristal yang terdapat dalam vakuola. Glioksisom
sering ditemukan di jaringan penyimpan lemak dari biji yang
berkecambah. Glioksisom mengandung enzim pengubah lemak
menjadi gula, proses perubahan ini menghasilkan energi yang
diperlukan bagi perkecambahan.
8. Plastida
Plastida merupakan organel khas pada sel tumbuhan. Terdapat
tiga macam plastida yaitu kromoplas, leukoplas, dan kloroplas.
1. Kromoplas, yaitu plastida berwarna yang mengandung
pigmen selain klorofil.
2. Leukoplas, plastida yang berwarna putih berfungsi untuk
menyimpan amilase (amiloplas), minyak (elaioplas), dan
protein (laueorplas).
3. Kloroplas, yaitu plastida yang berwarna hijau karena
mengandung klorofil. Kloroplas, seperti plastida lainnya, di
sebelah luar dibatasi oleh dua laipsan membran (membran
rangkap). Batas luar membran melingkupi matriks yang
dinamakan stroma dan suatu sistem membran yang luas.
Membran dalam terlipat berpasangan yang disebut lamela.
Secara berkala lamela ini membesar sehingga terbentuk
gelembung pipih terbungkus membran dan dinamakan
tilakoid. Struktur ini tersusun dalam tumpukan, mirip koin.
Tumpukan tilakoid dinamakan grana. Pada tilakoid terdapat
unit fotosintesis yang berisi molekul pigmen seperti klorofil
a, klorofil b, karoten dan xantofil. Analisis kimia dari
kloroplas menunjukkan kloroplas terdiri dari fosfolipid,
protein, pigmen hijau dan kuning, RNA dan DNA.

GAMBAR 1-6 Kloroplas
9. Vakuola (rongga Sel)
Vakuola merupakan organel sitoplasma yang berisi cairan,
dibatasi oleh selaput yang disebut tonoplas. Pelipatan ke dalam
dari sepotong membran sel membentuk vakuola.
Sel tumbuhan muda berisi banyak vakuola kecil, tetapi dengan
matangnya sel, maka terbentuklah vakuola tengah yang besar.
Vakuola berisi antara lain :
1. Asam organik
2. Asam amino
3. Glukosa
4. Gas
5. Garam-garam kristal
6. Minyak asiri (volatil), antosianin/zat warna
7. Alkaloid antara lain :
 Nikotin pada daun tembakau (Nicotiana tabacum)
 Kafein pada biji kopi (Coff’ea sp)
 Kinin pada kulit kina (Chinchona sp)
 Tein pada daun teh (Camellia sinensis)
 Teobromin pada buah cokelat / biji cokelat (Theobroma
cacao)
 Solanin pada umbi kentang (Solanum tuberosum).
Pada hewan bersel satu (protozoa), dikenal vakuola kontraktril
atau vakuola berdenyut yang menetap, berfungsi sebagai
osmoregulator yaitu menjaga nilai osmotik sel atau ekskresi.
Vakuola nonkontraktil atau vakuola makanan mempunyai fungsi
dalam pencernaan makanan dan mengedarkan hasil
pencernaannya.
10.Sitoskeleton.
Sitoskeleton atau rangka sel tersusun atas tiga jenis serabut
yang berbeda, yaitu mikrofilamen, mikrotubul, dan filamen
intermediet.
a. Mikrofilamen atau filamen aktin.
Mikrofilamen merupakan rantai ganda protein yang saling
bertaut dan tipis, terdiri dari protein yang disebut aktin.
Mikrofilamen tidak terlihat bila terlihat bila diamati dengan
mikroskop cahaya. Mikrofilamen berdiameter 5-6 nanometer
(nm), sehingga memerlukan mikroskop elektron untuk
mengamatinya.
b. Mikrotubul.
Mikrotubul merupakan rantai protein yang berbentuk spiral
dan spiral ini membentuk tabung berlubang. Mikrotubul
tersusun atas bola-bola molekul yang lebih besar dari aktin,
bola-bola ini disebut tubulin. Diameter mikrotubul lebih kurang
25 nm. Mikrotubul juga merupakan serabut penyusun
sitoskeleton terbesar. Mikrotubul dapat membentuk organel
sitoplasma berupa sentriol, silia, dan flagela.
Sentriol berbentuk silindris dan tersusun dari mikrotubul yang
tersusun sangat teratur. Sentriol akan membentuk benangbenang gelendong inti waktu sel membelah, silia dan flagel
merupakan tonjolan yang dapat bergerak bebas, dapat
dijulurkan dan juga tersusun dari mikrotubul. Mikrotubul
mempunyai fungsi mengarahkan gerakan komponenkomponen sel, mempertahankan bentuk sel, serta membantu
dalam pembelahan sel secara mitosis.
c. Filamen intermediat (serabut antara).
Filamen intermediat merupakan rantai molekul protein yang
berbentuk untaian yang saling melilit. Filamen ini berdiameter
8-10 nm. Disebut filamen intermediat atau serabut antara
karena ukurannya berada di antara ukuran mikrotubul dan
ukuran mikrofilamen. Serabut ini tersusun atas protein yang
disebut fimentin, namun tidak semua sel tersusun atas
fimentin. Sebagai contoh sel kulit, filamennya tersusun oleh
protein keratin.
Fungsi sitoskeleton adalah sebagai berikut :
a. Memberikan kekuatan mekanik pada sel.
b. Menjadi kerangka sel.
c. Membantu gerakan substansi dari satu bagian sel ke bagian
lainnya.


GAMBAR 1-7 Serabut-serabut penyusun sitoskeleton

Posting Komentar untuk "Memahami Struktur Sel dan Fungsi Sel Pada Manusia"